"apa yang sedang kamu lihat ?",dia bertanya dalam dinginnya kemarau .
"mata mereka yang menusuk nyeri kedalam sukmaku"
"mm.. lantas ..??"
aku menoleh gemas namun terikat bibir ini dalam senyum tipis
mencengkramnya dengan pandangan yang mengintimidasi
"k..kamu... pakai lagi sihirmu ?", ia tergagap
buatku terkekeh kesamping dan mencengkramnya kembali
"dengarkan baik-baik, sayang..."
memperingati kembali meski ku tau pasti tetap didengarkannya tanpa harus meminta
"setelah ini, mungkin aku akan pergi AGAK jauh..."
"lalu ?"
"lalu ... kita akan lihat, kemana benang merah ini akan membawaku"
"maksudmu ? tidak kembali ?"
"entahlah... aku pun tak tahu... tergantung radar mana yang membawaku kembali ke 'rumah' ku"
matanya membelalak, pupilnya membesar
"rumah yang sebenarnya",lanjutku menatap barat
"bukankah aku rumah ...mu---"
"entahlah... apa kau mampu membuat sinyal yang kuat untuk membawaku kembali ? tak ada yang tahu, Kita lihat saja nanti... "
perlahan cengkraman itu melonggar
dan keheningan yang kudapat dari secarik senyuman halus yang kusanjungkan
"pada akhirnya... kita yang memilih untuk bergerak atau tetap diam dari pencarian dan keinginan untuk dicari... sisanya tinggallah-"
"-berserah dan ikhlas",sambung si bisu tiba-tiba
sore mendadak serak, tak lagi memanggil camar dari kejauhan
meninggalkan keduanya dalam sunyi
namun semesta paham betul
ada yang meledak-ledak dikeduanya
"sampai jumpa - pulang"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.