Menjadi dewasa itu lucu sekali, ketika hasrat untuk memaki-maki hilang begitu saja tanpa perlu klarifikasi akan sebuah kebenaran yang kita ketahui.
Ketika sebuah permaafan tak lagi dipandang sebagai kekalahan apalagi sekedar mengalah, namun wujud kesadaran sebagai seorang yang tak luput dari kesalahan dan menjadikannya kesepakatan untuk mencapai kedamaian dalam tubuh itu sendiri.
Ketika sebuah permaafan tak lagi dipandang sebagai kekalahan apalagi sekedar mengalah, namun wujud kesadaran sebagai seorang yang tak luput dari kesalahan dan menjadikannya kesepakatan untuk mencapai kedamaian dalam tubuh itu sendiri.
Ketika kau merasa tak lagi berhak memaksa, tak lagi layak untuk selalu menerima, tak lagi cukup hanya dengan melihat, namun mewujudkannya dengan sikap yang nyata.
Pada hari-hari yang dilalui...benang-benang merah tak lagi terasa aneh, kau menerimanya dengan begitu ikhlas berikut pahit manis yang membayanginya.
Memaklumi tak lagi menjadi sebuah keterpaksaan.
Menerima, menerima, menerima...menjadi suatu keharusan,
kau akan banyak belajar tentang keikhlasan dalam tiap kegagalan yang kau lalui
dari setiap penolakan dengan detail alasan maupun tak beralasan
tahu diri, bahwa mungkin... saat ini kau masih bergantung pada orang lain sehingga tak bisa seenak hati melalui hari...
Kau akan belajar menghargai lebih dalam lagi, mendetail.
dan masih banyak hal yang lucu sekali saat beranjak dewasa...
Semua itu tak lain karena kau sudah mengenal dirimu, perlahan IA mengikis kulit tipis bocahmu lewat terpaan dunia.
Kau tak lagi memandang dirimu sebagai pusat edar semesta...
kamu akan memahami bawa kita bagian dari galaksi diantara banyaknya galaksi
belajar menghargai, memahami hak asasi galaksi lain agar tetap hidup dalam damai, berdampingan.
Menolong dan ditolong sudah bagian dari hubungan,
ketulusan tak lagi sekeras itu di munculkan, karena kau tau... ia akan berbinar sekalipun kau sembunyikan, begitupun sebaliknya, reseptormu makin peka merasakan hangatnya tanpa pun dikata.
Kau belajar ikhlas,
tak henti diuji, kau tetap berusaha ikhlas...
mencoba menerima bahwa segala yang didapat kini tak akan dimiliki selamanya,
perlahan memahami bahwa segala yang dapat dibuat atau dibeli kembali selalu punya cara untuk kau miliki lagi, namun tidak dengan sebuah hubungan dengan orang-orang baik yang mungkin saja berbuat khilaf karena masih begitu naif.
Kemudian, realita menjadi momok yang menguji gigihnya asamu
ia menjelma cairan antibiotik yang seolah melindungimu dari sakit akan kegagalan, namun menurunkan kadar percaya dirimu secara berangsur..
Kau akan bertemu banyak orang, kejadian, perasaan yang begitu menguras energi untuk dihadapi...
namun diantaranya, kau akan menemukan sebuah gubug kecil dimana ia menjadi singgah terbaikmu dari rasa lelah, tak sempurna... namun meneduhkan.
lagi-lagi.. kau belajar menerima ketidak sempurnaan dan belajar jujur mengakui ketidak sempurnaan milikmu...
Pada akhirnya, kau hanya ingin menjadi yang terbaik, sebisa mungkin...
dan mendapati orang-orang baik pula dikehidupanmu.
untuk melewati takdir baik maupun buruk sebagai ujian di depan nanti...
mendewasa itu sungguh lucu !
Kau akan bertemu banyak orang, kejadian, perasaan yang begitu menguras energi untuk dihadapi...
namun diantaranya, kau akan menemukan sebuah gubug kecil dimana ia menjadi singgah terbaikmu dari rasa lelah, tak sempurna... namun meneduhkan.
lagi-lagi.. kau belajar menerima ketidak sempurnaan dan belajar jujur mengakui ketidak sempurnaan milikmu...
Pada akhirnya, kau hanya ingin menjadi yang terbaik, sebisa mungkin...
dan mendapati orang-orang baik pula dikehidupanmu.
untuk melewati takdir baik maupun buruk sebagai ujian di depan nanti...
mendewasa itu sungguh lucu !
Yogyakarta, 13-14 Desember 2016
menyambut tagihan kedewasaan yang lebih lagi
#menuju23
menyambut tagihan kedewasaan yang lebih lagi
#menuju23
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.