"apa yang sedang kamu lihat ?",dia bertanya dalam dinginnya kemarau .
"mata mereka yang menusuk nyeri kedalam sukmaku"
"mm.. lantas ..??"
aku menoleh gemas namun terikat bibir ini dalam senyum tipis
mencengkramnya dengan pandangan yang mengintimidasi
"k..kamu... pakai lagi sihirmu ?", ia tergagap
buatku terkekeh kesamping dan mencengkramnya kembali
"dengarkan baik-baik, sayang..."
memperingati kembali meski ku tau pasti tetap didengarkannya tanpa harus meminta
"setelah ini, mungkin aku akan pergi AGAK jauh..."
"lalu ?"
"lalu ... kita akan lihat, kemana benang merah ini akan membawaku"
"maksudmu ? tidak kembali ?"
"entahlah... aku pun tak tahu... tergantung radar mana yang membawaku kembali ke 'rumah' ku"
matanya membelalak, pupilnya membesar
"rumah yang sebenarnya",lanjutku menatap barat
"bukankah aku rumah ...mu---"
"entahlah... apa kau mampu membuat sinyal yang kuat untuk membawaku kembali ? tak ada yang tahu, Kita lihat saja nanti... "
perlahan cengkraman itu melonggar
dan keheningan yang kudapat dari secarik senyuman halus yang kusanjungkan
"pada akhirnya... kita yang memilih untuk bergerak atau tetap diam dari pencarian dan keinginan untuk dicari... sisanya tinggallah-"
"-berserah dan ikhlas",sambung si bisu tiba-tiba
sore mendadak serak, tak lagi memanggil camar dari kejauhan
meninggalkan keduanya dalam sunyi
namun semesta paham betul
ada yang meledak-ledak dikeduanya
"sampai jumpa - pulang"
sekedar wadah untuk 'perbuatan' tanganku yang pecicilan , beberapa buah pemikiran yang terinspirasi oleh apapun dari jiwa yang begitu terpesona dengan kehidupan , setiap detail rumit dan mudahnya ... selamat mencicipi kisah para reseptor dan emosi dari tangan yang masih begitu 'mecicil' dan liar ...
Kamis, 17 Desember 2015
yang 'menggantung'
mereka bilang "Desember membuat semua harapanmu terwujud"
lantas bergelantunganlah mimpi-mimpi itu diatas kepala tuannya
menjuntai jauh dari pangkalnya ...
dilangit ketujuh sana mungkin, pikirku -agak apatis
atau lebih tepatnya sudah dapat menebak
apa yang akan terjadi satu dua bulan berikutnya
"masih kah ada yang tergantung disana ?"
karena mata ini begitu mencintai mimpi-mimpi yang menggantung kuat
diatas kepala pemiliknya
bahkan dengan melihat saja
seakan rela menjadi helaian tali diantara keduanya
yang menggantung menahan beban
menjaga mimpi-mimpi itu dari kuatnya angin
serta godaan grafitasi bumi
'semacam itulah'
lantas bergelantunganlah mimpi-mimpi itu diatas kepala tuannya
menjuntai jauh dari pangkalnya ...
dilangit ketujuh sana mungkin, pikirku -agak apatis
atau lebih tepatnya sudah dapat menebak
apa yang akan terjadi satu dua bulan berikutnya
"masih kah ada yang tergantung disana ?"
karena mata ini begitu mencintai mimpi-mimpi yang menggantung kuat
diatas kepala pemiliknya
bahkan dengan melihat saja
seakan rela menjadi helaian tali diantara keduanya
yang menggantung menahan beban
menjaga mimpi-mimpi itu dari kuatnya angin
serta godaan grafitasi bumi
'semacam itulah'
hanya 'belum'
kita belum selesai, sayang ...
kita hanya belum bergerak untuk mencari
juga belum menyiapkan radar untuk ditemukan
tak ada yang tau kapan semuanya akan siap dan menangkap
;)
kita hanya belum bergerak untuk mencari
juga belum menyiapkan radar untuk ditemukan
tak ada yang tau kapan semuanya akan siap dan menangkap
;)
Rabu, 09 Desember 2015
Jumat, 27 November 2015
Kamis, 05 November 2015
pencuri
Seperti ada yang dicuri,
Namun semua bukti mengarah bahwa aku lah pencuri sebenarnya.
Entahlah, bahkan malam pun naik bahu dan mengalihkan mata saat kutanya siapa pelaku sesungguhnya.
Sedang aku tau... Semesta pun tau
Siapa yang sok lugu seakan tak pernah tau
Namun semua bukti mengarah bahwa aku lah pencuri sebenarnya.
Entahlah, bahkan malam pun naik bahu dan mengalihkan mata saat kutanya siapa pelaku sesungguhnya.
Sedang aku tau... Semesta pun tau
Siapa yang sok lugu seakan tak pernah tau
Rabu, 02 September 2015
kantung teh
bukan perkara mudah bagi sebuah kantung teh terangkat dari gelas yang berisi air . Penuh. Sendirian.
begitu pula manusia
Adakalanya tersadar untuk segera bangun dan 'berpindah tugas'.
Setiap manusia punya konsentrat masing-masing terhadap manusia lain
Seberapa lama ia perlu dicelupkan atau mencelupkan diri dalam kehidupan manusia lain
seberapa pekat ia meninggalkan rasa yang kuat ataupun lembut
hingga seberapa banyak kadar 'kafein' yang perlu disalurkan melalui air dalam cawan,
sudah saatnya kantung teh ini diangkat atau mengangkat dirinya sendiri
menempel ke pinggir gelas saat diseruput tanpa sadar.
menempel dengan sabar hingga mengering, dan air menyusut
lantas merembet naik secara tak masuk akal sekalipun .
hingga tak lagi merendamkan diri dalam air berlama-lama.
Yang perlu kita catat
ada kadarnya...
ada batasnya...
tak perlu tamak, kaena semua sudah ada 'jatahnya'
begitu pula manusia
Adakalanya tersadar untuk segera bangun dan 'berpindah tugas'.
Setiap manusia punya konsentrat masing-masing terhadap manusia lain
Seberapa lama ia perlu dicelupkan atau mencelupkan diri dalam kehidupan manusia lain
seberapa pekat ia meninggalkan rasa yang kuat ataupun lembut
hingga seberapa banyak kadar 'kafein' yang perlu disalurkan melalui air dalam cawan,
sudah saatnya kantung teh ini diangkat atau mengangkat dirinya sendiri
menempel ke pinggir gelas saat diseruput tanpa sadar.
menempel dengan sabar hingga mengering, dan air menyusut
lantas merembet naik secara tak masuk akal sekalipun .
hingga tak lagi merendamkan diri dalam air berlama-lama.
Yang perlu kita catat
ada kadarnya...
ada batasnya...
tak perlu tamak, kaena semua sudah ada 'jatahnya'
Langganan:
Postingan (Atom)

