Kau ibarat kemarau panjang yang berubah jadi rintikan hujan, lalu awan berserakan, kemudian langit yang biru, selanjutnya hutan belantara, lantas menjelma menjadi apa saja tanpa kuasa ku menahan ataupun memintanya.
Dan aku akan selalu jadi filsuf sekaligus penyair muda yang percaya diri menjelajahi belukarmu dan terus mencoba menerjemahkanmu dalam berjuta makna, didalam hingga diluar logika.
Yogyakarta, 12 Januari 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.