aku terus bernafas
bernafas seperti orang 'normal' pada umumnya
orang normal yang tangguh tanpa beban pikiran mengenai HARI ESOK
aku menatap ke kerumunan orang di sekelilingku ..
bercengkrama , berfoto ria ,
berbagi cerita ,berbagi mesra dengan kekasih ..
sungguh Tuhan aku tidak iri
sungguh Tuhan aku tak ingin menghela nafas panjang
yang membuat-Mu berpikir kalau aku mengeluhkan nasibku ...
aku bangkit dari tempat dudukku , di anak tangga monumen sebuah kota besar
astaga ! ini malam minggu ? aku sampai lupa ...
kawanku sudah memanggil untuk melanjutkan kerja kami
dia lebih tua dariku , kulitnya tak kurang dari legamnya kulitku yang terbakar matahari tiap harinya
bahunya jauh lebih kekar dariku , jelas saja kawan ..
sesekali ia hisap batang rokok murahan yang tak pelit dia bagi denganku
dia sudah jauh lebih lama berkemelut dengan dunia dan takdir ketimbang aku
makanya aku tak sanggup mengeluh di depannya , sebagai LELAKI MUDA aku malu jika mengeluh dihadapannya
kami kembali menyerok pecahan keramik yang sudah dihancurkan para tukang sebelumnya
memasukkannya ke dalam gerobak sorong
dan membuangnya ke tumpukan si tepi taman monumen ..
kami tau kami berisik ..
beberapa kali pasang mata melihat sinis ke arah kami
yang tak ada niat sedikitpun mengganggu
kami hanya mencoba bergerak cepat memebersihkan puing-puing ini ..
itu saja , tapi biarlah ... toh hanya tatapan tajam yang menghujam kami
malam semakin larut ,
pengunjung semakin ramai
perutku terus meraung kelaparan
setiap berbunyi , aku menyerok keramik dengan berisik
agar tak ada yang mendengar ...sekali lagi aku malu
kami terus bekerja berharap puing-puing itu segera habis dan berpindah ketumpukan
agar kami segera dibayar , agar mak dan adik-adikku bisa makan hari ini
aduhai ... kasihan mereka , pasti menunggu ku pulang seperti biasanyadengan perut lapar
Tuhan , aku tak tau sampai kapan kau tempatkan aku dengan takdir yang seperti ini
tidak Tuhan .. sekali lagi aku tak mengeluh ...
aku malu jika mengeluh -Tuhan ...
aku bersyukur dengan apa yang Kau berikan kepadaku hingga detik ini
tapi bolehkah aku berharap ?
jika esok -entah kapan TERSERAH ENGKAU TUHAN - jadikan nasibku lebih baik dari ini
dan jangan jadikan aku lupa untuk bersyukur dan berbagi ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.