terengah..
tersadar tengah diatas kasur yang semakin tipis dimakan masa berikut massa
terbangun dari mimpi yang entahlah kenapa terasa begitu nyata
angin meniup dingin
"jendelanya !"
teriakku dalam diam
mata dan nalar menangkap logika
namun tubuh enggan untuk bergerak menutupnya
BRAAARRSSS
miliaran butir air jatuh dari langit
menusuk epidermis bumi bertubi-tubi
terperanjak dari kasur
seketika berlari menghampiri bukaan 1x1,5 meter itu
dia tersenyum
seperti 'kemarin'
entah berapa lama 'kemarin' dan berapa banyak kemarin yang kulewati
namun dia selalu disana tersenyum teduh
seakan 'kemarin' adalah kemarin
aku malu.
aku tau aku yang mengabaikannya diantara hari-hari 'kemarin'
"sudah cukup berkelananya ?"
tanyanya singkat
aku menunduk saja. tak berani menatapnya
namun hembusan dingin mengusap wajahku lembut
"tidak apa-apa ... reseptormu butuh pencecapan rasa", lanjutnya bijak dengan nada yang menghanyutkan
rasanya aku seperti rontokan daun kering di atas tanah yang tergiring menuju kubangan banjir didepan rumah
siap menuju siring dan berlayar diatas sungai
ingin hanyut saja ! bersama seluruh rasa bersalahku
"maaf, aku berbuat dosa"
"berbuat dosa ? bagiku itu bukanlah dosa , sayang...", dia tertawa renyah dari balik jendela
"tapi..",nadaku merengek dalam ...
malu dimaafkan begitu saja
"bukan masalah ... sama sekali...
aku tau betul, kamu mecicil dan liar"
"maaf..."
"apa yang perlu dimaafkan ? dan siapa yang salah ? tidak ada..."
aku mendongak. meski segan.
"karena pada akhirnya...aku akan selalu jadi 'rumah' untuk kau pulang.."
"bukannya ... aku rumahmu itu ?",tanyaku memberanikan diri
"keduanya. kita rumah bagi satu sama lain"
dia menatapku dalam..
mengkuiliti kerak kebencian dijiwa
yang mengerigisi diri sendiri beberapa hari
seketika memberi gambaran masa depan dengan penuh asa.
kuyakin bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.