Selasa, 10 Maret 2015

langit dan lempung - tak selera kisah cinta

pernah ku saksikan nyonya lempung bercerita dengan sedu sedannya,
membuat permukaan kulitnya makin becek saja.
ia bercerita tentang kisah cintanya
kami mendengarkan dengan seksama

beberapa dasawarsa yang lalu, langit menyapanya yang masih begitu muda mempesona di suatu senja.
ia begitu gagah dan menggoda, lempung belia tak dapat dikatakan sebagai gadis polos tentunya, ia menjaga wibawa.
"biarpun aku tanah dan berada dibawah... bukan berarti aku makhluk rendah",tekan nya saat itu

tentu saja langit terkesan dengan kesederhanaan dan keanggunan si tanah, ia pura-pura mengabaikan langit muda yang menggebu dapatkannya.
hingga akhirnya setelah sekian lama ia kirimkan puisi lewat  kecup embun, bisikan canda yang disampaikan gemerisik ilalang, dan banyak hal baik yang akhirnya membuat lempung muda memberikan hatinya untuk sang langit .
tentunya dengan beberapa syarat yang di sepakati langit saat itu .

waktu demi waktu berjalan dengan baik, polos, dan tergadang getir. bagi lempung dan langit tentu saja ini hal yang wajar, sayangnya.. seperti sifay dasar langit.. ia begitu tinggi dan suka berubah-ubah suasana hatinya. tak jarang ia menghantarkan paket halilintar ke jantung lempung yang saat itu masih berupa tanah gembur.

ia semakin tua, lempung semakin menderita dan sakit. ia telan tangisannya.
disaat itu pula langit tetap gagah diatas sana.
semua mata memujanya ketika cerah dan mencintainya ketika berawan. bersuka ria ketika hujan dan komat kamit doa ketika badai .
ia begitu kokoh tak terusik masa.

tak ada yang pernah tau bagaimana kisah si lempung dan langit.
yang ia tau... mereka tak terpisahkan.
namun ia sadar, langit tak pernah lagi sama.
bahkan ia lupa, jika langit pernah buatnya tertawa dalam canda rumput liat, ataupun tersipu malu oleh puisi lewat kecupan embun ..

yang ia tahu kini...
ia menjadi lempung tua
favoritnya para kerbau dan petani - petani dari kampung sana
menginjak-injak dengan bajak yang tak kenal lelah dan duka
karena langit terus kiriminya hujan ... dan buatnya makin pekat saja
anak-anak pun takut main diatasnya
mereka berteriak "lumpur hisap !!"

padahal siapa juga yang mau menghisap mereka
dan lintah... senang sekali hidup didalamnya .
bersiap diri jika kaki petani mendekat dan memungkinkan untuk dihisap darahnya.

aku menghela napas.
bertatapan dengan serangga dan fatamorgana
tak sanggup lagi dengar kelanjutan cerita semacam ini
dan perlahan berjalan mundur dari keramaian yang mengerubungi lempung

satu saja yang gemas ingin kusampaikan
terimakasih untuk kisah langit dan lempung...
yang membuatku tak selera dengan kisah cinta
tak percaya dengan semua asa asmara muda.


(nb : entah dari mana, terbayang tulisan liar nan abstrak ini dalam kegelapan malam, menanti kantuk untuk istirahatkan jantung dan tubuh, di iringi sisa suara hujan sejak semalam)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.