"kamu selalu datang di waktu yang tepat", ujarku pelan.
mega berwarna cerah ketika kau menerjang menghampiri dalam wujud rintik romantis yang begitu manis..
"lihat pohon di sebrang jalan sana?"
dia menoleh kebelakang
"yang semua daunnya kuning itu?"
"ya... kau tau ?"
"apa ? yang kutau sejak tadi kamu tersenyum ...rasanya sudah ratusan tahun aku gak liat senyum itu"
aku tertawa geli "hahaha, lebay !"
dia pun tertawa bisu melihatku tertawa renyah dihadapnya
"gimana daun tadi ?"
"oh.. iya, aku cuma mau bilang kalau dia mengucapkan terimakasih"
"untuk ?"
"dia bilang... dipenghujung masanya, dia bisa mati dengan bahagia tak lain karena kamu datang dengan lembutnya disore perpisahan dia dan rumpun keluarganya"
"aku sudah berjanji untuk menyampaikannya padamu... kau lihat ? matanya sendu ceria... dia lagi sekarat, namun pada kebahagiaan yang utuh.. "
"aku merindukan penciptaku, katanya tadi"
"dia memintaku memberikan pendapatnya tentang mu..."
"lantas kau jawab apa ?", hujan penasaran.. ia mulai mengurangi frekuensinya dalam rintik
"kubilang... 'bahkan, jika sore ini aku harus mati... aku rela mati karena aku sangat berbahagia, mungkin sama dengan yang kau rasakan sekarang ibu daun'..."
"apa .... itu gak terlalu...berlebihan ?"
aku menyeruput es susu coklat, lantas menatapmu dalam sipu... wajahmu tak kuasa menahan malu kan ?
"enggak... seperti yang kamu bilang tadi, sudah ratusan tahun rasanya aku tidak merasakan kebahagiaan seperti tadi..."
"hahaha...."
"duh, tawamu kaku ! kita ini apa sih ?", aku tertawa geli menggodamu yang makin tersipu.
"kita ini...",kau terhenti
tawaku tercekat, aku tau mataku membelalak perlahan.. bahkan gerak pupil dapat kurasakan.
"aih.. sudahlah ! apa-apaan sih mukamu !"
aku mencoba memecah kecanggungan...
kau tersadar... dan kembali tertawa dengan cerita-cerita senja yang kau bawa setelah sekian lama aku mengabaikannya.
kita tau...semesta bersuka cita akan kita, aku yang menantimu seperti dulu, dan kau yang tak lelah datang dengan menepuk rindu di kepalaku yang nyaris beku. aku yang selalu jadi rumahmu, bahkan di kala juni menguji lewat ritme yang sedikit... uh ! menyebalkan.
sepertinya... aku jatuh cinta
bukankah aku selalu jatuh cinta padamu ?
tapi kali ini aku benar-benar seperti saat masih awal dulu...
aku jatuh cinta padamu...
aku tau kau pun tau
kita selalu sulit mengatakannya dalam bahasa normal selayaknya manusia lainnya tapi kita selalu tau- paling tau ...kenapa Tuhan menjadikan kita ADA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.