Selasa, 12 Juni 2018

RACAU PAGI #3

Sebagai anak bungsu yang kuliah ketika ayah pensiun, dikasih uang bulanan yg harus cukup buat semuanya (listrik kost, air minum, makan selama sebulan, barang bulanan pokok, termasuk hal2 yg tak terduga), kuliah dengan desakan "harus cepat lulus", plus "kalo bisa cumlaude ya, karena anak mamah blm ada yg cumlaude", tentu saja saya harus serba hemat dan mampu menata.

Lulus S1 dan lanjut profesi dengan desakan segera lulus (lagi) karena mamah sudah mau pensiun dari guru negeri.

Punya mimpi yang silih berganti tapi passion tetap sama, hingga terlempar sana sini dalam masa pencarian diri dan menetapkan hati, gagal berkali-kali dalam pencapaian ambisi untuk menjadi normatif.

Dan akhirnya menemukan muara yang begitu melegakan batin dan pikiran, sebuah tempat yang menghubungkan setiap kegalauan dan pertanyaan selama ini... meski bukan akhir capaian, namun dititik inilah kesimpulan demi kesimpulan kudapatkan...belajar kembali banyak hal. Membukakan lebih banyak pintu dan pandangan...

Kesalahan dan kekalahan yang mengoreksi perlahan, mengajarkan banyak arti penerimaan...
Bahwa...memang benar tidak semua hal bisa dibeli dengan angka, sangat benar jika ada pepatah bilang kebahagiaan itu datangnya dari diri yang merasa cukup, dan tentang mimpi-mimpi polos yang mengejarmu dan menamparmu saat kau mulai lupa diri akan tugas yang IA tetapkan untukmu.

Dan... aku percaya, bahwa segala sesuatu yang bisa diganti, dibeli kembali, ditukar yang baru, dan hal-hal lain yang masih dapat diwujudkan dalam bentuk rupa...tidak lebih penting dari orang-orang baik disekitar kita dan tidak lebih menyakitkan dari kehilangan hasrat pribadi. Satu dua kesalahan, patut dimaafkan, karena kehilangan jiwa-jiwa tulus jauh lebih menyakitkan dari kehilangan harta benda, sungguh...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.