Selasa, 12 Juni 2018

RACAU TENGAH MALAM #2

Saya butuh rebahan, agak bengong, dan beberapa kali hela napas panjang saat memikirkan apa yang ingin saya tuliskan di edisi meracau kedua ini.

Belum 12 jam sejak saya sampai di rumah, rasanya mau nulis aja nggak sanggup, tangan sudah kering, dan rasanya ujung-ujung jari mulai keriput. Yaaa... Beres-beres bawaan lalu tidur hampir 3 jam karena kemarin malam minap di bandara, yaaa tentu saja tidak bisa tidur lelap. Sebangun dari mati suri itu, langsung mandi dan terjun jadi valounteer tahunan di dapur gubug kami, lanjut terus sampai malam cuci piring bekas makan yang ... MasyaAllah - tak sanggup kubayangkan ulang. Sambil bersenandung "ibu tiri hanya cinta kepada ayahku saja", dilanjut lagu hidayah "astaghfirullah" nya Opick (Padahal pas awal masak lagunya masih Banda Neira), wkwkkwkw.

Disini lah sensasinya. Ketika agen feminis romantis  yang adil dan beradab mengabdikan diri pada kehidupan patriaki yang membesarkannya hingga jadi se- reliable ini. (Mampus kau dikoyak sejarah !)
dan di momen seperti ini banyak sekali hal menggelitik di pikiran saya. Salah satunya," kok bisa ya...perempuan diluar sana sibuk minta di kawinin, sedang saya seumur hampir seperempat abad masih sibuk mikirin gimana caranya biar bisa bagi tugas di dalam rumah, mikir bagaimana bisa abis ini kerjaan kantor yang dititip selama saya mudik bisa tercapai sesuai target, bahkan banyak sekali yang bisa saya pikirkan sampai sakit kepala ini. Tapi tidak dengan pernikahan.

Balik lagi, mungkin itu ya... Yang diteriak-teriakkan orang tentang "perbedaan". Tentu saja latar belakang, ilmu, lingkungan tempat tumbuh berkembang dan pengalaman hidup menjadi alasan kenapa mereka ngebet dikawinin, sedang saya makin tua makin ogah-ogahan.

Bicara soal patriaki...
Saya sering membahas ini dengan beberapa kawan yang juga feminis. Dia bilang kalau bawaannya makin sinis dan sarkas jika membahas soal patriaki. Alhasil, gak jarang laki-laki jadi objek yang dipojokkan.

Lucunya, tidak dengan saya. Semakin mendalami tentang patriaki dan mengamati beberapa gerakan feminis di lapangan yang berbeda-beda alirannya justru membuat saya tidak ingin berkonfrontasi dengan kaum laki-laki. Kenapa ?

Sebagai resume yang bersifat sangat dini dan masih mentah akan rujukan, membenci sikap kaum laki-laki bukanlah solusi. Seperti menepuk air di dulang, kena muka sendiri, sia-sia, rugi yang ada.

Saya semakin yakin, bahwa bukan saatnya membenci antara gender, berkonfrontasi, dan hanya mblunder soal "siapa yang paling banyak berperan". 
Satu hal yang kusadari, sebuah hal yang sangat tragis... Adalah KITA SAMA-SAMA KORBAN PATRIAKI. 

laki-laki yang tercipta hari ini, sama apesnya dengan kita para perempuan. Kalau kita pusing lantaran ketidak seimbangan pembagian tugas di rumah, gaji di kantor, dan sebagainya...
Mereka jauh lebih tertekan daripada itu semua... Bagaimana tidak ?

Sejak lahir, laki-laki dinegara ini khususnya sudah di bentuk dan diajarkan untuk selalu kuat, tidak boleh menangis apalagi cengeng seperti stereotype terhadap perempuan, sampai remaja tidak pernah dilatih untuk bekerja menyentuh dapur, cuci piring dab bereskan kasur sendiri pun tidak, alhasil ? Diusia yang cukup matang, tidak bisa segera mandiri, ketergantungan yang lahir kepada kaum perempuan (baik terhadap ibu ataupun pacar, atau istri) menjadi bibit penerus sistem memuakkan ini. 

Belum lagi tuntutan agar selalu kuat, agar selalu jadi pemimpin, untuk peka dan menjadi pelindung, untuk mengasihi, untuk menafkahi, dan lain-lain... Menurutmu itu nggak berat apa ??? Ceennn~

Alhasil, gadis-gadis polos diluar sana (yang juga korban patriaki dan mengira semua ini hal alami dan kodrat dari ilahi) berpikir bahwa ,"aku ingin bisa masak, rajin, dan lemah lembut agar menjadi sosok ideal yang LAYAK DINIKAHI". 
berbondong update di sosial media 
"Aku udah bisa masak nih, mas. Yakin kamu gak mau sama aku ?"

What ???
Maaf kalau hanya saya yang merasa sedih sendirian. 

Pertemuan dua korban ini, sudah pasti akan melanjutkan estafet peradaban yang tak ada perubahan. "Generasi penerus patriaki". Dan akan melahirkan generasi serupa kemudian...wallohualam.. 

Saya jadi ingat, suatu hari saya ngobrol dengan anak sosial dari sanatadharma. kami angkat tema feminis dan patriaki waktu itu. Dia (laki-laki) bilang, "masalahe, sistem ini sudah berangsur selama lebih dari 1500 tahun mbak, jelas gak bakal diterima dengan mudah kalau kita melakukan hal-hal yang bertolak belakang atau minimal gak melakukan ritual seperti yang normatif ajarkan, ditambah lagi kita lahir dan tumbuh dengan banyak layer; adat istiadat, agama, kebiasaan keluarga, dan lain-lain yang tentu saja kita gak bisa sembarang menjadi 'berbeda' (kalau gak mau kena hukum sosial)". 

Benar juga, sungguh dilematis. Terlebih mengingat bahwa tidak semua yang kita lakukan sebagai kebiasaan itu suatu yang benar. Apalagi jika menyangkut adat istiadat... Ditambah kita masih tipikal keluarga yang 'dipantau' orangtua yang konservatif, dimana menikah bukan menjadi pintu kebebasan untuk mengelola keluarga kecil secara mandiri, namun tetap dalam intervensi. 
JELAS INI : PE-ER !

Balik ke gadis-gadis baik dan lugu tadi... Tidak jarang saya melihat beberapa gadis yang saya kenal memilih untuk "mengemis" dikawini, baik yang jomlo ataupun yang sudah punya pacar. Kode-kode 'dihalalkan' yang membuat saya miris kemudian... Karena setelah (akhirnya) dikawini, mereka mulai galau di media sosial tentang kehidupan rumah tangga yang berat, membandingkan tugas dirinya dan suami yang seakan tidak seimbang saat mengasuh bayi, anak yang rewel, galau mau kembali gadis, dan banyak hal yang membuat saya sedih. "Kok yo kamu nggak bertanggung jawab dengan pilihanmu ?"

Belum lagi ada yang bilang, "aku tuh nggak bisa masak dan beres-beres, nanti gimana lah ngurus suami aku ", Hhhhhhh... Sampe gak kuat berkata-kata. 
Itu lah ya, kenapa laki-laki juga harusnya sadar untuk melawan patriaki, karena mereka sendiri yang rugi karena tidak bisa (padahal bisa) untuk mandiri.

Jadi, saya sendiri kesal dengar laki-laki yang bilang, kalo nikah untuk diurusi, (baca:: dimasakin, dicucikan baju, dibereskan lemari, dibikinkan kopi, diurusin rumah dan anaknya sama istri) 

BHAY ! 
KOWE NGGOLEK ISTRI OPO PEMBANTU LE? 

akan mustahil ya, mungkin ada tapi akan sangat jarang mendengar ," kalo sudah nikah, pengen belajar masak bareng istri, gantian bikin sarapan, nata rumah bareng, ngerawat anak bersama, dsb" 

Kayak mimpi ya ? Hahaha. Begitulah. 
Padahal kalau kita bicara soal patriaki, pasti merembet luas sampai ke pernikahan. Saya pernah menulis tentang pernikahan di TUMBLR saya. Tulisan singkat itu lahir atas keprihatinan saya dalam memandang sebuah pernikahan. Dimana rasanya menjadi orang yang aneh ketika mengharapkan pernikahan yang sakral, lebih dari sekedar penghalalan nafsu birahi, dan soal gengsi dalam kehidupan sosial dibelakangnya. 

Menikah... (hiiy saya merinding ngucapnya) bagi saya sangat-sangat sakral, nggak bisa sembarang pengen langsung trabas. Nggak bisa cuma modal nafsu dan punya uang, kerjaan, rumah, segala  embel-embelnya. 
Nggak cukup. Karena ini sebuah keputusan jangka panjang dengan banyak resiko dan cobaan tiada akhir. Untuk jatuh dan bangkit berkali-kali, untuk jatuh cinta setiap hari, untuk kecewa dan kebahagiaan yang timbul tenggelam, belum lagi hadapi kerasnya unsur eksternal yang datang tak tahu kapan dan bagaimana, tentu saja bukan hal yang bisa ditentukan dengan mudah. 

Ditambah lagi, untuk orang- orang yang memang tidak tertarik untuk menjadi agen  penerus patriaki, tentu saja menikah dengan konsep persahabatan, dimana melayani, menguatkan, dan merawat milik bersama adalah tugas satu sama lain,  menjadi hal yang lebih menantang karena sulit sekali menerapkan hal tersebut dalam kenyataan. Karena tidak semua orang siap untuk mengemban tugas yang tidak pernah diajarkan oleh generasi sebelumnya tentang "tugas lintas gender". 

Hah.. Saya harus check jemuran diluar, dan mulai bantu ibu saya remas-remas daun suji, dan nggak lama lagi nyiapin buka puasa. Berat ? Iya, tapi sudah jadi kebiasaan dari kecil. Ketika pulang, artinya kembali menjadi bagian dari patriaki. Meski pelan-pelan ngobrol sama mamah  untuk bagi tugas ke kakak laki-laki dirumah. Agar cepat selesai. 

Intinya... 
Patriaki itu udah ketinggalan jaman bener, merugikan kita semua, mau kamu laki ataupun perempuan, kita sama-sama dirugikan.

Dan kita selalu bisa memilih. 
Apakah ingin seperti ini terus, atau menjadi bagian dari manusia-manusia yang merubah peradaban, mulai dari keluarga kecil kita, mulai dari pola pikir yang kita yakini, dan dari sikap-sikap dalam menghadapi apapun setiap harinya. 

"Revolusi sejak dalam pikiran" lah istilahnya. Semoga, generasi setelah kita nantinya, tidak lagi mengenal "bangga berjiwa babu bagi perempuan", dan "bangga menjadi alpha yang nggak bisa apa-apa dan cuma nyusahin perempuan  bagi laki-laki"

Semoga ! 
Selamat beraktifitas kembali .
Salam nalar. 
:)

Bandarlampung, Selasa 12 juni 2018







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.