Selasa, 05 Juni 2018

RACAU TENGAH MALAM #1

Sedikit  klise, 
namun pada akhirnya kutuliskan juga.

Ada beberapa hal...
Oh tidak, ada BANYAK HAL...dimana saat kita 'mendewasa' dalam artian sesungguhnya, kita akan banyak belajar dan merefleksikan yang sudah kita lakukan, untuk sebuah perbaikan. (Meski tak semua orang melakukannya, tapi percayalah... bagi kalian yang berani mengakui kesalahan pada diri sendiri, dan menjadikannya refleksi untuk lebih baik kedepannya, kalian boleh bersyukur).
Karena hidup dan menghidupi kehidupan, mengenal dan memahami diri sendiri, sungguh hanya terpisah seutas tipis dalam pemaknaan namun berdampak besar pada kehidupan.

Manusia seringkali bersikap lucu, memang. Ia menciptakan manusia dengan chaos yang kadang buat kita sendiri terheran-heran dengan sikap dan pikir kita. Kadang kita seringkali merasa paling 'selesai', meskipun tidak akan pernah ada yang benar-benar 'selesai' sepanjang jantung ini masih ada degupan. Kita merasa sangat lebur, meski tersisa setitik lebih pekat, merasa berhak mengkasihani yang lain meski semua itu, tak lain hanya menerjemahkan kesombongan demi kesombongan pada semesta, bahwa diri... merasa lebih tinggi dari sosok yang lain...

Rasa kecewa, amarah, bahagia, cemburu, benci, iri, obsesi... dan masih banyak lagi, seringkali mengganggu pikir kita- sadar ataupun tidak. Membandingkan menjadi kejahatan kecil yang adiktif bagi jiwa kita, menciptakan serpihan-serpihan rasa yang jauh dari kata 'nyaman dan aman'. Jauh dari kata bersyukur dan menerima- diakui atau tidak.

Tapi cobalah, sesekali saat dalam perjalanan yang memberikanmu kelonggaran untuk mengintim dengan semesta, kita memutar semua itu dengan sudut pandang lainnya, dengan alur apa saja, tak lain untuk belajar memahami sebuah pola abstrak yang mungkin tak dapat langsung kita maknai dengan cantiknya.
"kita pernah merasakan nikmat seperti yang dia rasakan...", meski dalam wujud yang lain.
"mungkin Tuhan memang tidak merestui jalan tersebut, dan aku yang sudah berjuang ini harus belajar tentang penerimaan sebuah takdir"
"bisa jadi, sosok-sosok yang kita bandingkan dengan diri menginginkan apa yang kita jalani saat ini"
"apa kita akan benar-benar bahagia jika bertukar posisi dengannya ?"
"apa mungkin tak ada celah untuk bersyukur dengan apa yang saat ini kita punya ?"
"jika saat ini aku belum baik, bukannya tak ada kata terlambat untuk memperbaiki ?"

Pada akhirnya,
hanya masing-masing kita yang bisa mengupayakan sebuah KELEGAAN, keikhlasan, penerimaan, sekaligus SYUKUR. Mendewasa itu seperti pilihan, kita bisa terus bernapas, hidup, makan, beraktivitas, dan mengulangnya begitu terus sepanjang usia... atau berusaha meranang sebuah takdir dengan cara yang lebih baik-untuk jadi yang lebih baik, tanpa harus lupa bahwa takdir NYA jauh lebih kuasa dan jelas arahnya.

Sebuah kekuatan yang menguatkan namun bukan untuk adu kekuatan dengan Maha Pemberi Kekuatan. Apakah kalian juga pernah berpikir demikian ?

Karena, bagiku pribadi...
perasaan-perasaan yang muncul yang mungkin disebutkan di atas, bisa jadi sebuah jalan pembuka untuk kemampuan berpikir, dan cara mendalami kehidupan dengan sebuah kaca yang mengarah ke diri sendiri. Salah satu jalan manusiawi dalam mencari makna dirinya dalam kehidupan, untuk mengetahui tugas yang Tuhan embankan dengan punggung dan telapak kaki yang telah IA desain sesuai kapasitasnya masing-masing.
Sebuah jalan untuk menerima dan bersyukur akan anugerah - sebuah kehidupan.


Selamat malam,
Selamat mencari, selamat menemukan diri...dan menjalankan tugas dari NYA dengan sebaik-baiknya.
Karena hidup ini, bukan cuma tentang makan, tidur, mengkoleksi gelar, dan mengumpulkan angka.
Kita semua diberi tugas LEBIH DARI ITU 
Asal kita mau mencari tahu, dan melakukannya.


Yogyakarta, 05 Juni 2018
23:50


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.