Selasa, 12 Juni 2018

RACAU PAGI #3

Sebagai anak bungsu yang kuliah ketika ayah pensiun, dikasih uang bulanan yg harus cukup buat semuanya (listrik kost, air minum, makan selama sebulan, barang bulanan pokok, termasuk hal2 yg tak terduga), kuliah dengan desakan "harus cepat lulus", plus "kalo bisa cumlaude ya, karena anak mamah blm ada yg cumlaude", tentu saja saya harus serba hemat dan mampu menata.

Lulus S1 dan lanjut profesi dengan desakan segera lulus (lagi) karena mamah sudah mau pensiun dari guru negeri.

Punya mimpi yang silih berganti tapi passion tetap sama, hingga terlempar sana sini dalam masa pencarian diri dan menetapkan hati, gagal berkali-kali dalam pencapaian ambisi untuk menjadi normatif.

Dan akhirnya menemukan muara yang begitu melegakan batin dan pikiran, sebuah tempat yang menghubungkan setiap kegalauan dan pertanyaan selama ini... meski bukan akhir capaian, namun dititik inilah kesimpulan demi kesimpulan kudapatkan...belajar kembali banyak hal. Membukakan lebih banyak pintu dan pandangan...

Kesalahan dan kekalahan yang mengoreksi perlahan, mengajarkan banyak arti penerimaan...
Bahwa...memang benar tidak semua hal bisa dibeli dengan angka, sangat benar jika ada pepatah bilang kebahagiaan itu datangnya dari diri yang merasa cukup, dan tentang mimpi-mimpi polos yang mengejarmu dan menamparmu saat kau mulai lupa diri akan tugas yang IA tetapkan untukmu.

Dan... aku percaya, bahwa segala sesuatu yang bisa diganti, dibeli kembali, ditukar yang baru, dan hal-hal lain yang masih dapat diwujudkan dalam bentuk rupa...tidak lebih penting dari orang-orang baik disekitar kita dan tidak lebih menyakitkan dari kehilangan hasrat pribadi. Satu dua kesalahan, patut dimaafkan, karena kehilangan jiwa-jiwa tulus jauh lebih menyakitkan dari kehilangan harta benda, sungguh...

Selasa, 05 Juni 2018

RACAU TENGAH MALAM #1

Sedikit  klise, 
namun pada akhirnya kutuliskan juga.

Ada beberapa hal...
Oh tidak, ada BANYAK HAL...dimana saat kita 'mendewasa' dalam artian sesungguhnya, kita akan banyak belajar dan merefleksikan yang sudah kita lakukan, untuk sebuah perbaikan. (Meski tak semua orang melakukannya, tapi percayalah... bagi kalian yang berani mengakui kesalahan pada diri sendiri, dan menjadikannya refleksi untuk lebih baik kedepannya, kalian boleh bersyukur).
Karena hidup dan menghidupi kehidupan, mengenal dan memahami diri sendiri, sungguh hanya terpisah seutas tipis dalam pemaknaan namun berdampak besar pada kehidupan.

Manusia seringkali bersikap lucu, memang. Ia menciptakan manusia dengan chaos yang kadang buat kita sendiri terheran-heran dengan sikap dan pikir kita. Kadang kita seringkali merasa paling 'selesai', meskipun tidak akan pernah ada yang benar-benar 'selesai' sepanjang jantung ini masih ada degupan. Kita merasa sangat lebur, meski tersisa setitik lebih pekat, merasa berhak mengkasihani yang lain meski semua itu, tak lain hanya menerjemahkan kesombongan demi kesombongan pada semesta, bahwa diri... merasa lebih tinggi dari sosok yang lain...

Rasa kecewa, amarah, bahagia, cemburu, benci, iri, obsesi... dan masih banyak lagi, seringkali mengganggu pikir kita- sadar ataupun tidak. Membandingkan menjadi kejahatan kecil yang adiktif bagi jiwa kita, menciptakan serpihan-serpihan rasa yang jauh dari kata 'nyaman dan aman'. Jauh dari kata bersyukur dan menerima- diakui atau tidak.

Tapi cobalah, sesekali saat dalam perjalanan yang memberikanmu kelonggaran untuk mengintim dengan semesta, kita memutar semua itu dengan sudut pandang lainnya, dengan alur apa saja, tak lain untuk belajar memahami sebuah pola abstrak yang mungkin tak dapat langsung kita maknai dengan cantiknya.
"kita pernah merasakan nikmat seperti yang dia rasakan...", meski dalam wujud yang lain.
"mungkin Tuhan memang tidak merestui jalan tersebut, dan aku yang sudah berjuang ini harus belajar tentang penerimaan sebuah takdir"
"bisa jadi, sosok-sosok yang kita bandingkan dengan diri menginginkan apa yang kita jalani saat ini"
"apa kita akan benar-benar bahagia jika bertukar posisi dengannya ?"
"apa mungkin tak ada celah untuk bersyukur dengan apa yang saat ini kita punya ?"
"jika saat ini aku belum baik, bukannya tak ada kata terlambat untuk memperbaiki ?"

Pada akhirnya,
hanya masing-masing kita yang bisa mengupayakan sebuah KELEGAAN, keikhlasan, penerimaan, sekaligus SYUKUR. Mendewasa itu seperti pilihan, kita bisa terus bernapas, hidup, makan, beraktivitas, dan mengulangnya begitu terus sepanjang usia... atau berusaha meranang sebuah takdir dengan cara yang lebih baik-untuk jadi yang lebih baik, tanpa harus lupa bahwa takdir NYA jauh lebih kuasa dan jelas arahnya.

Sebuah kekuatan yang menguatkan namun bukan untuk adu kekuatan dengan Maha Pemberi Kekuatan. Apakah kalian juga pernah berpikir demikian ?

Karena, bagiku pribadi...
perasaan-perasaan yang muncul yang mungkin disebutkan di atas, bisa jadi sebuah jalan pembuka untuk kemampuan berpikir, dan cara mendalami kehidupan dengan sebuah kaca yang mengarah ke diri sendiri. Salah satu jalan manusiawi dalam mencari makna dirinya dalam kehidupan, untuk mengetahui tugas yang Tuhan embankan dengan punggung dan telapak kaki yang telah IA desain sesuai kapasitasnya masing-masing.
Sebuah jalan untuk menerima dan bersyukur akan anugerah - sebuah kehidupan.


Selamat malam,
Selamat mencari, selamat menemukan diri...dan menjalankan tugas dari NYA dengan sebaik-baiknya.
Karena hidup ini, bukan cuma tentang makan, tidur, mengkoleksi gelar, dan mengumpulkan angka.
Kita semua diberi tugas LEBIH DARI ITU 
Asal kita mau mencari tahu, dan melakukannya.


Yogyakarta, 05 Juni 2018
23:50


Rabu, 02 Mei 2018

Menjadi Dewasa #3 | MASIH PENCARIAN | PERSAHABATAN

Aku harus mengulang berkali-kali paragraf terakhir di seri ke #2 menjadi dewasa. Hhhhhhh.... menjadi PHP itu berat, biar aku saja... kalian jangan.
:(
*Baiklah, langsung saja tanpa mikir plot yha!

....

Hasil pengamatan jaman MOS itulah, landasan gambaran penghidupanku di TIGA TAHUN KEDEPANNYA. Beruntungnya aku tak pernah berharap bisa dekat dengan banyak orang, khususnya "mas-mas an" gemes di jajaran panitia MOS ataupun bukan. (Yha... meskipun pas sliwer ganteng yaaaa jelalatan juga, yasudah lah ya... namanya rejeki (eh!).
Selama tiga tahun itu pula, aku menjalani kehidupan SMA tanpa ekspektasi apa-apa kecuali "akhirnya masuk sekolah negeri yang bisa pake sepatu tali dan pulang cepet".
YEAYY !

Dan harapan itu pupus seketika ketika pengumuman pembagian kelas di hari ketiga MOS. Sungguh, dengan berseragam olahraga SMP Swasta satu-satunya yang berwarna biru tua cerah di tengah lapangan, aku berharap namaku segera dipanggil saja. Tapi tidak terjadi ... hingga 3 kelas terakhir diumumkan. YAAAAAA... anak IPA... yhaaaaaa... entah ini perlu dibanggakan atau ditangisi ya.
Aku kembali masuk kelas unggulan, bedanya di Negeri namanya "RSBI" (apa kepanjangannya aku sudah lupa, BHAY !)

Tidak bermaksud sombong, hanya merendah untuk meroket saja sih (Apasih !). Alasanku masuk negeri agar bisa pulang cepat pun mendadak menjelma kemustahilan. Lagian, ingatkan ? di jilid ke 2 aku bercerita tentang kasus "tereliminasi" dari kelas unggulan, gampangnya... aku sudah malas dengan kompetisi. dan kelas non reguler kayak gini, mestilah ada embel-embel yang membebani, entah IMAGE yang sok high gitu, sampai kelas yang misah dari jajaran kelas lain, sehingga komunitas kami menyempit. HIH ! Termasuk peluang main-main sama anak kelas lain, karena kami pasti punya jadwal untuk "kelas tambahan". Sungguh, masa mudaku patut ditangisi (yaaa walaupun pada akhirnya bisa pakai sepatu tali).
Sudahlah nggak cantik, nggak eksis, nggak pinter tapi selalu terjerembab dalam takdir kelas-kelas berlabel, tambah lagi minim waktu main. T____T
Dah segitu aja sombongnya.

Hari-hari berjalan sesuai dugaan... hanya saja, ternyata tak seketat jaman di swasta, masih bisa bolos dan jadi rombongan anak rajin yang sering disuruh nyapu halaman dengan tangan. YA... SAYA RAJIN TERLAMBAT. Kayaknya itu bakat sih... karena walaupun siap dari jam setengah tujuh,  tetap saja berangkat jam 06.45, padahal gerbang tutup jam 07.00. So nice kan ;3
Dari situ justru jadi kenal sama anak-anak lain, yang bandel-bandel nggemesin, dan yang gak gemesin juga sih.

Di awal semester, sudah nemu aja gerombolan aka geng yang asik, sampai pada akhirnya ada konflik, yaaa namanya juga bocah. Tapi disitulah semua ilmu tentang persahabatan dimulai. 
Kalau dibilang, posisiku itu SIDEKICK- ada ataupun gak ada ya gak masalah. I'm not a queen bee person, tapi juga bukan followers. Jadi posisi yang super duper netral itu justru yang 'gak berkarakter' kalo kata teori di artikel Majalah Gadis bertemakan persahabatan remaja yang kubaca. Contoh, saat ada konflik, maka posisi aman karena tidak dalam pusaran konflik, tapi ya keseret juga karena jadi punya PR besar menyatukan atau minimal mendamaikan. And, that was really exhausting.
Hingga akhirnya, dalam konflik yang bertubi-tubi antara 'perpecahan geng', 'ganti pemain', sampai 'tukar guling persahabatan', dan 'konflik antar geng' ... semua itu mengarahkan kita untuk memiliki warna yang jelas. Belajar bagaimana memahami keadaan, mencari solusi, dan bersikap, tentu saja merangkul masing-masing resiko yang mungkin saja terjadi sepaket bersama pilihan yang kita ambil.

Contoh, saat teman se-geng mu melakukan kesalahan dengan anak diluar geng, tapi semua anak geng membela temanmu (ya tentu saja), sedangkan disitu kamu merasa 'ini tidak benar'. Ya... dalam posisi itu, aku pernah dimintai pendapat. Dan ...jujur saja aku khawatir akan resikonya (ikut dijauhi) tapi aku mengatakan yang sejujurnya bahwa kita tidak boleh menyalahkan 'si anak di luar geng' karena kenyataannya dia tidak bersalah. Benar saja, memang tidak di jauhi, tapi ada perombakan pemain dalam kelompok. Tapi sebelum itu terjadi, aku yang defensenya sangat tinggi ini, bergerak sendiri untuk menjadi independent.

Sok ya ? tapi membayangkan diri ditinggalkan jelas lebih menyakitkan ketimbang meninggalkan. dan menjalani hal-hal yang gak sesuai keinginan seperti jam kekantin yang harus sama, terus menerus dan terkadang malah nggak jadi ke kantin karena setungguan dan berujung kelaparan, sungguh membuat frustasi di jam pelajaran selanjutnya dengan perut keroncongan.
Mulai dari hal sepele seperti 'Pergi ke Kantin Sendirian', aku memulai langkah sebagai seorang "aku' dalam kacamata individu dan sosial.

Ke kantin sendirian terdengar sepele, tapi... untuk masa itu, sebuah pencapaian bahwa kamu tidak merasa takut ketika bertemu anak kelas lain yang kadang buatmu insecure karena kamu sadar kamu cupu dan berwajah gampang di bully. LOL. Percayalah, TRAUMA ITU NYATA.
meskipun begitu, mungkin karena pembawaanku yang 'supel', membuatku tak berlama-lama berjalan sendirian. Satu persatu, dua, tiga kawan baru mulai terlihat, lingkaran baru, namun kali ini aku memilih 'independen'. Itu kenapa hingga saat ini, (kadang akupun heran) aku bisa masuk lingkaran mana saja tanpa perlu bergabung didalamnya. Dan cara seperti ini jauh lebih menenangkan. Ibarat sebuah novel, kamu berada di sudut pandang orang ke 3 didalam cerita.
Banyak celah untuk jadi seorang pengamat, memberi ruang untuk memahami diri, menyelesaikan konflik seorang diri sebagai remaja yang beranjak dewasa, dan membuatmu lebih berani dalam melangkah kedepannya hanya dengan membawa apa yang ada pada dirimu sendiri.

Akupun jadi punya julukan baru karena bergabung dengan kegiatan ekskul gadis-gadis solihah,
pun aku mendapat isu kalau aku dicemburui karena dekat dengan salah satu atau dua anggota geng lain, tapi jauh lebih bisa santai dan cool menghadapinya. Seperti itulah rasanya memahami, cepat atau lambat... kamu merasakan, bergelut, memilih, bersikap, lantas menjadi terbiasa dan jauh lebih bijaksana ketika menghadapi yang serupa.

Aku menjadi anak yang sering 'dicurhatin', dari mulai masalah teman, pacar, keluarga. Dan disitu belajar banyak untuk tidak berkomentar. Mendengar dan memahami lebih banyak memang menuntut mulutmu untuk mengatup lebih sering. Begitulah cara kerjanya.
Hhhhhh... sungguh, banyak hal yang tak bisa kuceritakan sesungguhnya sama beratnya dengan yang mereka ceritakan. Tapi disitulah kita belajar, bahwa tidak hanya kita yang mengalami masalah, dan tidak hanya kita yang dituntut untuk kuat. Dan yang paling sulit adalah "tidak meremehkan masalah orang lain yang mungkin memang tidak lebih berat dari milik kita", toh ini bukan sebuah perlombaan "siapa yang paling menderita", tapi itu memang sudah sesuai porsinya.
Semua orang mengalami prosesnya masing-masing, tak melulu sama berat, tak melulu sama waktunya, tapi yang pasti seorang sahabat pernah bilang ...
"Bukannya setiap bahu sudah dirancang untuk kuat memikul bebannya masing-masing ?"

Dan aku yakin sekali, masa transisi selalu jadi ajang terberat setiap makhluk hidup, khususnya manusia. Sedangkan proses mendewasa... ternyata tidak ada akhirnya. seorang teman di kantor pernah bilang "tidak ada manusia yang sudah benar-benar selesai dengan hidupnya".
walaupun mau sok mengelak, tapi ya benar juga. Sama seperti belajar sabar dan ikhlas, latihan dan ujiannya selalu berlangsung hingga akhir hayat.
Bukankah dunia ini sungguh 'lucu dan menggemaskan' ??? Dibilang sementara, tapi kenapa begiti lama dan banyak hal yang kita lalui kan ? itupun masih harus belajar dari sekitar karena tidak semua rasa mampu kita rasakan seumur hidup kita. Gila kan ? apa nggak keren tuh ...


Mungkin, ini edisi #menjadidewasa yang terakhir. Entah karena malas, atau khawatir PHP lagi...
rasanya, kita semua akan paham dengan sendirinya, entah dengan impuls dari dalam ataupun dari luar. Manapun itu, percayalah...mendewasa takkan membunuhmu. Jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hal yang menajadi keputusan NYA. Tetaplah hidup dan menghidupi kehidupan.
Jadi tak perlu berpikir kita yang paling menyedihkan, atau kita yang paling menderita (ini juga masih jadi PR untukku sendiri).

sampai-sampai aku membuat lelucon garing tentang diriku sendiri. Selama ini selalu mengeluh tiap mencari sepatu perempuan ukuran kakiku, banyak sih tapi yang cakep itu sedikit yang ukurannya diatas 38 yha~. Lantas terlintas, "oh... mungkin itu kenapa Tuhan buat kakiku besar dan bahuku cukup lebar, karena aku harus kuat menopang semuanya lewat kedua kaki dan pundak ini. Bukankah semuanya sudah didesain sesuai takaran-Nya ?"


Dimanapun kamu, dan tahapan yang kamu lalui sekarang, seberat apapun, seminim apapun bantuan disekitarmu, bahkan mungkin tinggal dirimu dan TUHAN...
Percayalah, kalian mampu melewatinya. Tak perlu kabur, hadapilah... "what doesn't kill you makes you stronger". Lirik ini tak salah.  Hanya dengan menghadapi, kamu bisa lolos disetiap tahapannya.

keep holding on.
berbuat baiklah, karena semesta akan membalikkan apa-apa yang kamu taburkan ke sekitar.
mungkin, kamu pernah kecewa karena saat kamu kesulitan, tak ada yang menolongmu bahkan untuk mereka yang selalu kamu bantu saat dalam kesulitan... Tapi coba pertajam hati dan matamu... selalu ada "penolong" lain yang melunakkan jalanmu. Ya... meski bukan dengan cara yang sama, tapi dampaknya sama.

Kebaikan itu menular, berbalik, dan bikin nagih.
Jangan menjadi jahat hanya karena sebagian kecil dunia tidak ramah padamu...
Kita tidak pernah tahu, seberapa besar beban dan kesulitan yang orang lain hadapi...
bukankah seperti itu kata pepatah yang bertebaran di dunia maya ?

dan kuberitahu...
MEMANG BEGITU ADANYA...

Selamat mendewasa tanpa harus menua, teruslah jalan kedepan, tak harus terus berlari. terkadang kamu perlu duduk di tepian jalan, menikmati keindahan ciptaanNYA, sebelum melanjutkan perjalanan kembali....
Semangat ! :)

Mari menghidupi kehidupan yang sementara ini
dengan menjadi sebaik-baiknya manusia yang bisa kita capai. 

Jumat, 23 Desember 2016

Menjadi Dewasa #2 | MASA REMAJA | PENERIMAAN

Akhirnya kuputuskan untuk menjadikan seri 'Menjadi Dewasa' sebagai rangkuman beberapa poin dengan bumbu-bumbu sok bijak hasil pendalaman ilmu kehidupan dengan poin yang agak berantakan dan sejumput PHP dalam penyelesaian seri nya.

Masih dengan rumus yang sama . "Menjadi dewasa itu sungguh lucu"....

Semua hal yang ada sekarang membuatku tertawa geli jika harus mengingat hari kemarin, namun... tak sedikitpun ada rasa kuatir hingga ingin menghapusnya.
Mendewasa itu memang menyayat perih, kalian pasti akan pahami cepat atau lambat, tapi itulah lucunya... beberapa dari kita membiarkan jejak-jejak muda itu begitu saja. Ya...itu karena kita telah MENERIMA.

Benar kata pepatah "kita takkan bisa mengubah masa lalu". Yang bisa kita lakukan hanyalah berbenah, simpan luka dan kecewa yang lalu kedalam sebuah ruangan di belakang, tak perlu sering-sering dibuka pintunya cukup dengan memberinya ruang. Bukan untuk dikenang terus-terusan, namun untuk refleksi diri jika dibutuhkan suatu hari.

IKHLAS, satu kata dengan penerapan tersulit sepanjang kehidupan. Ikhlas satu, datang banyak hal yang minta di ikhlaskan. Lucu kan ? entah Tuhan bercanda untuk menguji kita atau pula murka ? kita tak tau, namun yang pasti... selama yang kita tebar merupakan kebaikan, maka tak perlu khawatir akan berbagai cobaan. Toh pasti terlewatkan, seperti janji Tuhan yang tak pernah IA ingkari.

Dulu...
Memiliki fisik yang tak begitu indah bahkan 'sempurna' menjadikan diri menciut dihadapan dunia, menatap esok pun gemetaran. Masa puber adalah masa paling sulit. (yakan ?) rasanya seperti fase neraka.
kita belajar menerima luka dan tak jarang melukai diri sendiri, pintar dan bodoh secara bersamaan, naif.  Hingga menjadi remaja adalah anugerah karena disitulah titik balik bagi banyak orang, termasuk aku.

Jika ditanya apa yang membuatku seperti sekarang ? (emang sekarang udah jadi apa sih, sok banget deh ! *ngomong sendiri)
well... sebenarnya aku sosok yang sangat percaya diri sejak kecil, kromosom tak bisa berbohong. Pendidikan dalam keluarga benar-benar poin penting, hingga masa remaja melunturkan semuanya.
Pada fase itu aku ditampar kenyataan yang disampaikan oleh orang lain yang sebaya denganku, yang sebenarnya tak lebih pintar dari -keluguan- ketololan ku dimasa itu.
hingga aku menyadari, benar-benar menyadari bahwa "AKU JELEK"

Kaca menjadi teman sekaligus musuh, tiap pagi bersiap kesekolah, dia tak mengingatkanku akan memasang wajah manis, hanya terdiam melihatku percaya diri dengan merasa diriku tak ber gender !
kalau dia baik, harusnya ingatkan aku kalau aku ini perempuan ! yakan ?
Tapi lagi-lagi dia hanya benda mati, tak mungkin menyadarkanku yang masih begitu tengil dan naif.
hingga aku di hina oleh teman sekelasku karena tidak cantik saat mengemukakan opini dikepalaku saat melawannya.

"astaga, sejak kapan beropini harus cantik ?!"
dan dia pun meneriakkan hinaannya dari ujung bangku kelas, dan aku diujung kutub satunya. JELAS SEMUANYA DENGAR (sial !). Karena ucapannya itu, aku yang bodoh bin tolol ini menjadi agak tertutup dengan kepalaku sendiri, aku mengenal istilah MINDER, dikelasku isinya anak-anak orang kaya yang sangat terawat, dan kalaupun tidak kaya, mereka tidak jelek. Dan seakan memang akulah yang terjelek .

Apesnya, mamaku tak menyadari bahwa anak gadisnya ini akan mengalami masa sulit di fase remajanya, aku bukan tipe pengadu juga sih. Mamah jarang sekali mendandaniku dengan dandanan ala gadis-gadis dikelasku, aku besar dengan gaya yang "BOYISH", kaos, celana 1/2 tiang atau 3/4, without veil. aku belum berkerudung saat itu.
Pulang sekolah balik kerumah, ganti baju ala anak laki-laki, dan pergi ke tempat les. BANGGA.
Menjadi kebiasaan, hingga suatu ketika kelas kami ada acara outbond ke tempat wisata alam yang baru buka saat itu. dikatakan dalam edaran "dilarang menggunakan celana ketat". Aku punya sih celana jeans (waktu itu masih musim cutbray) tapi kan... itu ngetat di bagian paha, yakan ???

bodohnya lagi (ahh .. aku memang bodoh) aku terlalu patuh, SALAH KOSTUM BANGET. banyak yang pakai celana itu dan nampak modis ! sedangkan aku ? 3/4 gombrong + baju lengan 3/4 (karena gak punya baju lengan panjang sebelum berkerudung) dan ... kerudung langsungan pendek berkaret !!!
OMG HARI ITU BENAR-BENAR BENCANA ~
seorang anak laki-laki berkata "puan, kamu itu aneh banget gayanya !", disusul dengan tawa anak laki-laki lainnya. Defense ku tinggi, tentu saja insting bertahanku muncul. "ya, suka-suka gua lah. gaya-gaya gua", jujur.... aku nahan nangis ! dan mereka masih ada yang nyeletuk jahil dan mentertawakan di tempat umum. Itu pembully an kan ??? Agh!
aku tau kok aku salah kostum banget... tapi gimana lagi ? UDAH TERLANJUR.
dan hari akan selalu berakhir kok. Semuanya terlewatkan begitu saja, meskipun tak ada kenangan seru hari itu kecuali bully an yang masih terngiang, beberapa ingatan akan "kemungkinan adanya foto-foto dikamera milik mereka"

Waktu SMP juga, aku masih begitu khawatir akan tersebarnya foto-foto jelekku di masa lalu.
karena beberapa orang menyebalkan terkesan sengaja mengatakan hal tidak menyenangkan seperti...
" eeh, aku punya foto kamu lho pas jaman SD waktu kita sekelas... hahaha lucu banget !"
pas ku tanya "yang mana ? liat dong ?"
dia jawab, "ada di rumahku, jangan deh..."
kemudian ada yang nyeletuk " oh, aku pernah liat... yang itu ya ??? ahahhahah"

terus aku harus apa ?
:')

kalau kemarin kakak iparku bilang
"orang lampung memang harus tinggi difensenya, gimana enggak... hidup disana keras, kalo gak ada pertahanan, bakal diinjak-injak".
Kupikir-pikir.... benar juga sih...
Mungkin gak mesti orang Lampung, siapapun yang hidup dalam lingkungan yang keras, pastilah beradaptasi untuk bertahan hidup. Dan itulah yang membentuk diri kita.

Well, balik lagi ke masa remaja.
di umur SMP juga, akhirnya pelarianku ke buku. Mizan merupakan penerbit buku novel-novel remaja favoritku yang pertama. Kakak perempuanku yang pertama kali memperkenalkan novel-novel tipis namun kaya pesan dan makna buat anak seumurku. Akupun mulai menemukan diriku yang baru, begitu ter-eliminasi dari kelas unggulan pertama saat kenaikan kelas 3, lantaran gak bisa mempertahankan ranking di garis aman (ya... jangan ditiru, aku gak pernah belajar dengan giat), aku pun di pindahkan ke kelas unggulan kedua (turun kasta), disitu... aku mulai menjadi diriku, menemukan teman-teman baru, percaya diriku meningkat drastis, lebih banyak anak-anak yang 'se-level' dengan ku dan mereka lebih terbuka. REMAJAKU TERSELAMATKAN.
Gak peduli sekalipun mamah ngomel-ngomel dan ngancem jual buku-buku sekolah karena gak pernah dipake belajar.  Aku terselamatkan ~

Dannnnnn~
kalian tahu ???
aku baru diceritakan 'drama' dibalik pemanggilan wali murid ketika aku dapat surat peringatan akan turun kasta kelas ... bayangkan ! aku baru tahu di umurku yang ke 22 ! gila ~
Ternyata saat itu kakak perempuanku (yang baru 1 atau 2 tahun kuliah di psikologi ) diminta mamah mewakili panggilan ke sekolah, bertemu dengan walikelas ku yang... hmmm memang agak keras.

Beliau ternyata bilang kalau aku 'tak bisa diselamatkan kalau prestasinya terus menurun, dan bisa tereliminasi', beberapa kali beliau 'menjatuhkan' citraku didepan kakak perempuanku. Jujur aku gak nyangka, karena selain pelajaran Matematika dan fisika, aku bisa menghandle yang lainnya, bahkan menjadi murid yang disayang (emang gurunya penyayang sih, haha).
BERUNTUNGNYAAAAA punya kakak yang paham kondisi. Ia paham apa maksud si bapak, dan langsung dijawab "gapapa pak, kalau memang Puan harus tereliminasi, karena bagi kami... yang penting Puan tetap semangat ke sekolah dan menikmati pembelajaran."

aahhh entah kenapa, aku merasa senang.  Dibalik pertarungan ku dengan masa remajaku, ternyata aku juga dibela dalam pertarungan yang lain. TERTOLONG ! Tereliminasi dengan bahagia, karena memang aku sudah mulai tidak nyaman dnegan kondisi kelas, dan aku tidak pernah menceritakan keluh kesah ku ke siapapun dirumah.   Apa ini namanya INSTING DARAH ?
Tak ada yang kusesali dari tradisi eliminasi itu, aku mendapatkan kembali diriku. SETIMPAL.


Masa SMA...
Aku makin percaya diri, masuk ke salah satu sekolah favorit di sana. dan SMA yang aku impikan :)
Bertemu dengan teman-teman baru yang begitu baik, sahabat-sahabat yang masih menjadi sahabat rekat hingga kini.
Aku mengikhlaskan kehidupanku di SMP. Lulusan SMP ku yang aku kenal cuma sedikit yang masuk di SMA ku waktu itu. Benar-benar senang ~!

SMA juga menjadi titik balik bagi seorang aku.
Pertemanan diuji, kebijaksanaan dibangun, permaafan ditabung, logika bermain, dan banyak penerimaan-penerimaan lain yang mengantri dikehidupan 3 tahun setelah pengumuman penerimaan.
Cinta pun tumbuh... lucu-lucu naif.
Tapi tak jauh dari nasibku ketika SMP, aku masih tak punya keindahan fisik yang bisa kubanggakan.
kepalaku semakin besar karena banyak menelan ilmu kehidupan dan memikirkannya, masalah datang berganti dna menumnuhkan kebijaksanaan di usiaku yang masih belum menginjak 17 tahun.

Aku mendewasa lebih awal. Melakukan penerimaan akan fisikku, harga diri yang dibangun dengan tingginya, bahwa takkan merendahkan diri hanya karena tidak cantik ataupun demi orang yang disukai (sepihak, tentu saja).
hahaha, lucu sekali. Bisa dibilang... aku berada di posisi sidekick dalam pertemanan, cinta, ataupun kehidupan. Namun aku tetap survive dan bergerak kedepan.
"Tak pernah merasakan kisah asmara" selama di SMA. Sudah tidak heran bila itu diangkat dalam bab kehidupanku, namun aku berani mengagumi sosok-sosok menarik yang kutemui. Lumayan lah ya ?

Yang kupelajari di awal penerimaan SMA, adalah
"anak-anak eksis itu punya bakat bawaan"
mereka terlihat sejak masa orientasi, yang tampan atau cantik akan jadi incaran kakak angkatan, mereka akan lebih banyak dipanggil dengan alibi di kerjai, padahal dijadikan bahan modusan...
sedangkan sisanya "yang terabaikan", pemeran cadangan dan sisanya lagi cuma lewat... kalau dikerjai habis-habisan, dijadikan bahan bercandaan yang cenderung menghina.

percaya atau tidak, selama MOS, aku memperhatikan gerak-gerik pelaku orientasi maupun kakak tingkat, dari gestur hingga senyuman dan tatapan penuh niat bully terhadap anak-anak yang di posisi
'cuma lewat', ramah tamah pun beda reaksi antara yang menarik dan yang tidak.
Aku pun makin yakin memutuskan tak lagi merasa perlu bergaul terlalu dekat dengan yang beda angkatan ...
(maaf kalau teorinya gak valid buat kehidupan kalian)



Bersambung.....
(udah keburu subuh, aku harus tidur~)






Rabu, 14 Desember 2016

Menjadi Dewasa (1)

Menjadi dewasa itu lucu sekali, ketika hasrat untuk memaki-maki hilang begitu saja tanpa perlu klarifikasi akan sebuah kebenaran yang kita ketahui.

Ketika sebuah permaafan tak lagi dipandang sebagai kekalahan apalagi sekedar mengalah, namun wujud kesadaran sebagai seorang yang tak luput dari kesalahan dan menjadikannya kesepakatan untuk mencapai kedamaian dalam tubuh itu sendiri.

Ketika kau merasa tak lagi berhak memaksa, tak lagi layak untuk selalu menerima, tak lagi cukup hanya dengan melihat, namun mewujudkannya dengan sikap yang nyata.

Pada hari-hari yang dilalui...benang-benang merah tak lagi terasa aneh, kau menerimanya dengan begitu ikhlas berikut pahit manis yang membayanginya. 

Memaklumi tak lagi menjadi sebuah keterpaksaan.
Menerima, menerima, menerima...menjadi suatu keharusan,
kau akan banyak belajar tentang keikhlasan dalam tiap kegagalan yang kau lalui
dari setiap penolakan dengan detail alasan maupun tak beralasan
tahu diri, bahwa mungkin... saat ini kau masih bergantung pada orang lain sehingga tak bisa seenak hati melalui hari...

Kau akan belajar menghargai lebih dalam lagi, mendetail.
dan masih banyak hal yang lucu sekali saat beranjak dewasa...

Semua itu tak lain karena kau sudah mengenal dirimu, perlahan IA mengikis kulit tipis bocahmu lewat terpaan dunia.
Kau tak lagi memandang dirimu sebagai pusat edar semesta...
kamu akan memahami bawa kita bagian dari galaksi diantara banyaknya galaksi
belajar menghargai, memahami hak asasi galaksi lain agar tetap hidup dalam damai, berdampingan.

Menolong dan ditolong sudah bagian dari hubungan,
ketulusan tak lagi sekeras itu di munculkan, karena kau tau... ia akan berbinar sekalipun kau sembunyikan, begitupun sebaliknya, reseptormu makin peka merasakan hangatnya tanpa pun dikata.

Kau belajar ikhlas,
tak henti diuji, kau tetap berusaha ikhlas...
mencoba menerima bahwa segala yang didapat kini tak akan dimiliki selamanya,
perlahan memahami bahwa segala yang dapat dibuat atau dibeli kembali selalu punya cara untuk kau miliki lagi, namun tidak dengan sebuah hubungan dengan orang-orang baik yang mungkin saja berbuat khilaf karena masih begitu naif.

Kemudian, realita menjadi momok yang menguji gigihnya asamu
ia menjelma cairan antibiotik yang seolah melindungimu dari sakit akan kegagalan, namun menurunkan kadar percaya dirimu secara berangsur..

Kau akan bertemu banyak orang, kejadian, perasaan yang begitu menguras energi untuk dihadapi...
namun diantaranya, kau akan menemukan sebuah gubug kecil dimana ia menjadi singgah terbaikmu dari rasa lelah, tak sempurna... namun meneduhkan.
lagi-lagi.. kau belajar menerima ketidak sempurnaan dan belajar jujur mengakui ketidak sempurnaan milikmu...

Pada akhirnya, kau hanya ingin menjadi yang terbaik, sebisa mungkin...
dan mendapati orang-orang baik pula dikehidupanmu.
untuk melewati takdir baik maupun buruk sebagai ujian di depan nanti...

mendewasa itu sungguh lucu !


Yogyakarta, 13-14 Desember 2016
menyambut tagihan kedewasaan yang lebih lagi
#menuju23

Minggu, 18 September 2016

sebuah penawaran

ada dua hal tentang sebuah kepergian
yang pertama untuk kembali (lagi)
dan yang kedua ... untuk benar-benar pergi.
kemudian kau tanya padaku berada dimana ?
haruskah jawabku jujur ?
bahkan aku tak yakin akan sebuah 'rumah' ...
kecuali pada Nya lah aku akan 'berpulang'

kau menengadah ke langit yang mereka bilang 'kosong'
apa yang kau lihat ?
aku penasaran...
"Jika aku menuntunmu dengan susunan batu yang ku letakkan diantara ilalang..."
kau masih tak menatapku sedikit pun
bolehkah aku dengar segera apa lanjutan kalimatmu ?
mengapa napasmu begitu berat ?
bahkan jemarimu seakan ingin mewakili kegagapanmu berbicara

kau menatapku, perih
jemarimu yang gemetar tadi...
mendekati si kelingking kurus milikku
sekarang...aku benar benar...

"dapatkah aku menjadi persinggahanmu ? jika memang tak ada kata rumah dalam hidupmu,.."

sepenuhnya jemariku kau genggam.
aku terpaku ...
mengapa dindingku begitu angkuh ?
akupun tak memahami benteng ini
situasi selalu ku kambing hitamkan
namun, mengapa aku begitu membeku ?

Genggam mu halus namun erat.
"mampirlah jika kau lelah...digubug kecilku di hutan sana"
...
"ikuti saja bebatuannya...kau pasti suka."
...

aku hanya bisa menatapnya,  sesuatu terjun bebas menabrak pipi dan bibirku.
hangat.



Yogyakarta, 19 September 2016
00:06




Minggu, 10 Juli 2016

The Great Nanny #PART 1

NB : Tulisan ini kuketikkan di hari kematian Alm. dan belum sempat melanjutkannya, tapi niat sudah kadung terbentuk... jadi.. di upload dan anggap saja ini part 1 nya  ya...

--------------------------------------------


Mungkin ini pertama kalinya aku menuliskan hal real tentang kehidupan pribadi secara blak-blakan...entah kenapa kali ini aku merasa "HARUS NULIS" tentang apa yang aku rasakan saat ini.
Ya, jika kalian sudah melihat IG ku pagi tadi....Tulisan kali ini, aku persembahkan untuk Alm. Mbak Robiyah... atau siapapun yang mengenalnya dan tidak mengenalnya. Aku ingin mencatatnya dalam sejarah pribadi, atau publik... bahwa pernah ada sosok "The Great Nanny" diatas bumi yang makin terlihat kecil dan sementara ini.

* BERITA *
Yogyakarta, 15 Juni 2016
Rabu pagi.

Bingung, jika harus dimulai dari mana...dan mungkin akan mengalir begitu saja secara acak. 
Subuh tadi sehabis sahur, handphone  kumatikan sembari di charger. Seperti biasa pasti ketiduran lagi sehabis subuh ... dan bangun-bangun sudah sekitar jam setengah tujuh-an. Begitu handphone nyala, langsung masuk perpesanan dan telpon. Aini menelpon dengan suara agak parau, mungkin karena masih pagi... 

"mbak, udah denger kabar ?"
"apaan ? kabar apa ?"
"mbak rob ninggal...tadi subuh katanya"
"Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun...seriusan ??"

Antara sadar gak sadar, aku mencerna berita tersebut, kira-kira pembicaraan singkat itu berakhir begitu saja dengan lempeng. Gak ada perasaan gimana-gimana. Cuma... berasa seperti angin gak lewat, cahaya gak ada, pikiran lagi kosongan. Kemudian langsung hubungi keluarga dirumah, sembari buka-buka file lama di laptop buat nyari foto terakhir aku dengan beliau...
memancing kembali semua ingatan yang terhalangi deadline pagi ini.
Kalau aku harus mengakui sesuatu dan aku bilang 'tidak menangis', berarti aku berbohong.

* BIBIT *
(flash back ya...)

Aku lahir dan tumbuh dengan kondisi yang serba istimewa (menurutku pribadi), aku punya tiga ibu, satu saudara sepersusuan, dan 2 orang ayah serta saudara kandung dan tak kandung lainnya. 
Waktu kecil, aku termasuk yang rewel dan pilih-pilih asupan makanan, untuk saat itu aku masih di usia "ngASI". Mbak Rob gak bisa ngehandle aku yang nangis gak berhenti, sedangkan mamah saat itu masih kuliah pendidikan guru.. Ya...bisa dibilang aku anak yang 'kecolongan', ada niatan punya anak... tapi kehadiranku diluar 'jadwal'. 

Disaat yang bersamaan, ibu yang tinggal dibelakang rumah atau yang biasa kupanggil "Tante Sri" gak tega ngeliat aku yang nangis gak berhenti-berhenti, akhirnya setelah izin suaminya dia memutuskan untuk memberikan ASI nya buatku. Bener saja, aku langsung tenang. Anaknya, Aini... anak perempuan yang lahir sebulan setelah kelahiranku. 
Ayah-Mamah, Ibu-Bapak kami saling mengenal sejak masa muda, ya... orang tuaku lebih tua beberapa tahun, dan seiring dengan kisah yang terjalin oleh benang merah yang begitu panjang, mereka pun sudah seperti saudara kandung.
Ibu kami hamil diwaktu bersamaan mengandung kami, dua-duanya perempuan tangguh, anti manja gula-gula... kepasar berdua biar saling 'backup' kalo sampe ada yang pingsan (meskipun pada akhirnya yang pingsan malah yang 'jagain') begitulah.. 

Sepulang mamah kerja, Tante Sri sendiri yang bilang ke mamah.
"Mbak Yati... tadi Mega nangis gak berenti-berenti, aku gak tegel*(tega) liatnya.. jadi aku susuin"

Mamah tentu saja agak kaget...tapi 'gimana lagi ?' udah terlanjur kan ? 

"Tapi kamu sudah izin Saleh ?" (suami Tante Sri)
"Sudah Mbak..."
"Kalo memang kamu ikhlas, dan Saleh mengizinkan...ya gak papa..saya yang terimakasih"

Setelah ucapan maaf dan terimakasih dan entah apalagi diluar pengetahuan saya... sejak itu pula saya RESMI punya saudara sepersusuan yang namanya AINI .


* MBAK ROB *

Mbak Rob mulai tinggal bersama keluarga kami sejak sekitar 3 bulan sebelum aku lahir, ayah sendiri yang mencarinya untuk persiapan kalau aku lahir. Ayah dapat info dari temannya kalau ada gadis dikampungnya di Metro yang bisa dijadikan asisten rumah tangga. 

Hari itu, ayah mboyong Mbak Rob kerumah kami yang baru dibangun (belum sepenuhnya selesai) tahun 1993. Kami pendatang baru dan cukup bisa dikatakan 'pendahulu' di daerah tempat tinggal kami, Rajabasa. Tempat yang (kalau kalian mau tau) jaman dulu sih angker banget kalau denger nama RAJABASA. Kecamatan yang dibilang angker bukan karena banyak setan... tapi markasnya preman. Bukan sekedar preman... tapi gembong alias tempat dimana antar geng preman berkumpul, yang mana ceritanya bebacokan antar geng preman -peperangan berdarah dijalan menujun rumah kami itu hal yang BIASA. 
Bisa dibayangkan ? 

Rumah kami di ujung gang, sekitar 1 kilometer dari jalan protokol, 1993 Desember belum ada listrik, masih pakai petromagh . Lokasi gak begitu jauh dari Terminal Induk Rajabasa yang sampai sekarang masuk peringkat 'Terminal Ter-angker se Asia Tenggara'... lagi-lagi bukan karena setannya, tapi karena kriminalitas dan premanisme yang berkembang pesat disana. 
(Jadi upaya saya menyamar menjadi gadis jawa baik-baik di Yogyakarta bisa dikatakan berhasil ya ? mengingat saya tumbuh dilingkungan 'mantan preman' disana)
 Saking jarangnya rumah disana, ayah memasang nomor rumah dengan angka 100, dan sejak itu perkembangan pemukiman disana membuat rumah dengan nomor yang menghitung mundur dari 100 ...(lucu ya?  #maksa)

Kalau dipikir-pikir, Mbak Rob gak ngeluh ya dibawa untuk kerja dilingkungan kayak gitu ? mengingat aku pernah denger kalau ART sekarang banyak maunya, bahkan berani bilang "saya gak biasa kerja di rumah yang gak tingkat 2 dan pembantunya gak 2" (ini real lhooo !!!)
Salut. 

Mbak Rob lahir di Metro, didesa kecil dengan bulek (tante) dan saudara-saudara sepupunya. Ia sudah yatim piatu sejak berumur 3 tahun kalau gak salah, dulu dia pernah cerita waktu aku masih kecil. 
Dia tidak bisa baca tulis, karena gak sempat mengenyam pendidikan SD saat itu karena orangtuanya meninggal dunia, jadi begitu sudah tau kerjaan, dia ikut bulek nya nandur di sawah. Seperti kebanyakan penduduk di kampungnya. 

Dulu aku sering nanya dengan polosnya "kok Mbak Rob gak bisa baca ?"
beliau cuma jawab, " kan Mbak Rob gak sekolah, kalo mega kan sekolah makanya pinter baca".

Yang kuingat pasti, Iat elaten orangnya, sabar sama anak kecil, aku ingat sekelebat-sekelebat...
waktu mamah kerja, aku sama mbak Rob seharian. Doi sambi masak, nyuci, dsb.
Kalau lagi masak, aku digendong pakai kain gendong di belakang, biar gak kecipratan minyak.
Aku inget waktu masih kecil dia suapin pakai ikan mas, terus ketelan duri... dia gak terlihat panik tapi terus berusaha ngeredain tangisanku sambil nyuapin nasi biar durinya lepas kebawa nasi, dan air.

Saking dekatnya dengan mbak Rob dan "apa-apa Mbak Rob", aku sampe diledekin "anak Mbak Rob" sama tetangga dan teman-teman mengajar mamah. Mereka tertawa ngeledekin aku, tapi aku nangis gak mau disebut anak Mbak Rob. hehe...
Baru sekitar SMA aku bisa 'selow' diledekin begitu .
Ya... Mbak Rob bekerja di keluarga kami sekitar 20 tahun. Bayangin !

Resepnya ?
Menurut penelitian terhadap banyak tokoh sih. 
keawetan pekerja bergantung pada bagaimana si pekerja, dan si pemberi pekerja. 
sebagai contoh :

Dikerluargaku, Mbak Rob diperlakukan layaknya anggota keluarga. Bedanya, jobdesknya lebih spesifik. 
Mbak Rob bebas meminta tolong pada siapapun di rumah kami, bahkan menyuruh ku untuk menggantikan tugasnya. 
"Ga, bikinin minum buat tamu sih", ini kalo mintanya lagi baik yaa. Misal ada tamu yang gak dia suka, dia akan diem dikamar atau kalo ngomong 
"sana bikini minum, itu kan om -mu"

well~
Alm. Nenekku dari ayah pernah menyaksikan 'episode' yang ini, dan beliau sempat meminta orangtuaku menegur Mbak Rob.
Tapi apa yang dilakukan orantuaku ?
diam aja.

Mama sering marah-marah bangunin aku tiap minggu pagi karena males-malesan dan sengaja bangun siang (katanya) -masih bela diri yeee...
Doi bilang "jangan semua-mua mbak Rob.. sana nyapu depan !"
(iya.. pake tanda seru kok)
"inget ya nak, tugas pembantu itu hanya MEMBANTU (ditekankan dengan halus saat bicara empat mata), BUKAN BABU"

keren kan ? emak guwe !
alhasil.. kami semua harus kerja, bantu mamah, beres-beres rumah .. kecualiiiii pria-pria dirumah kami yang harus dilayani. 

*PERJALANAN*

20 tahun aku yakin bukan waktu yang singkat dan mudah. Manusia diciptakan dengan semua sisi baik buruk serta paket menyebalkan sebagai 'BONUS'. Begitu juga almarhum dan kami. Seperti sebuah takdir yang tak bisa kami pilih, seperti takdir akan sebuah ikatan saudara.

Seluk beluk rumah kami, dia masternya. Setiap pagi sudah bangun matikan lampu-lampu, nyapu, nyuci baju. Mamah dan Mbak Rob itu sejenis team yang udah saling back-up, karena mamah ayah kerja berangkat pagi kan..kami juga sekolah.
Sebenernya gak ada suatu yang diharuskan ke Mbak Rob dirumah kami.
bebas dia mau nyuci jam berapa, masak jam berapa. Yang pasti.. urusan baju seragam dipakai hari apa dan apa... doi udah harus tau dan ada pas mau dipake. 
Simpel. 
Mbak rob diajari mamah banyak hal untuk kami, dan baiknya juga Mbak Rob improve banget sama yang mamah ajarkan, gak jarang untuk beberapa hal dia EXPERT ketimbang mamah.


Kolaborasi Lebaran yang paling asyique.
Mbak rob bukan tipe yang terlalu antusias sama bikin kue, jadi partner mamah ya tante sri. 
Tiap tahunnya rumahku seperti open house, mulai dari pulang solat IED sampe malem, tamu gak berhenti ... alhamdulillah ramai. 
dan tentunya memberikan pekerjaan tambah buat kami, HANYA PARA WANITA untuk membereskan semuanya. 
kalau kalian yang baca ikut terjun, baru bisa ngerasain sensasinya. Ketika tamu gak berhenti dan datang seperti gelombang laut, kemudian semua gelas keluar, dan masuk ke rak cucian,= dan segera harus dicuci, dikeringkan dan diisi lagi.
Mengisi toples-toples dan piringan makanan basah untuk selalu penuh...gak lupa cipika-cipiki, dan tugas tambahanku sebagai "PENYALUR THR"
Anak-anak kecil gak kalah banyak. Seperti udah dibisikkan secara turun temurun (lebay), anak-anak ini aku perhatikan dari kecil sampe pada SMP masih pede ikutan nunggu THR ...

Aku iri, sering. 
Karena sejak kecil, aku gak pernah ngerasain keliling rumah tetangga untuk minta THR. Dengan kondisi rumah yang ramai, aku gak bisa kemana-mana sampai H+3 lebaran.. sedih kan ?
hiks.

Balik lagi ke persiapan lebaran.
yang terkenal dari Gubug kami waktu lebaran adalah "MANISAN KULANG-KALING"
yeah.. aku baru ngerasain ikut membuatnya pas SMA. Tentu saja kalian akan tau dari mana rasa manisan yang jadi legenda itu. 

Pulang dari pasar, mamah sudah bawa 10 kilo kulang-kaling (pernah sampe 20 kilo karena sepupuku ada yang minta dibuatkan). Mbak Rob langsung bongkar muatan, dan nyuci ampe bersih, rebus, cuci lago, rebus lagi. Hingga adegan yang terakhir setelah gula-gula dimasukkan (ini bisa memakan waktu seharian sampe malem malah) aku bertugas gantikan mamah ngaduk tuh panci dengan 20 kilogam kulang-kaling. Bagian terberat, mengaduk, mengaduk, mengaduk, sampai semuanya merata panas dan manis pun meresap.

Kulang-kaling jadi, itu bukan sebuah akhir. Ini nih... keahlian Mbak Rob...
Kulang-kaling manis tadi enak banget kalo dimakan bareng tape ketan item !
wuiiihhhh dahsyat. dan lucunya... selama aku idup, gak ada tape ketan yang nyaingin enaknya tape bikinan Mbak Rob. Mungkin terdengar lebay, tapi seriously.. aku agak menyesal belum pernah belajar bikin tape sama doi. :'(

(Bersambung ...)